Sunday, April 25, 2010

-.-"


Because when I want –and ready– to tell something, I’ll tell it.

I have an inherent inability to verbalize my feelings. It’s too bad. -_-

I never needed a friend, like I do now.

I never needed a friend, like I do now.
t.A.T.u – Gomenasai



To: my best friends

I miss the time when the time is cheap.
I miss the time when we can play all day without feeling guilty.
I miss the time when we laugh for nothing, exactly for nothing.
I miss the time when you eat so many snacks without feeling guilty. HAHA.
I miss the time when you borrow your money for me because for a thousand times I forgot to bring my wallet.
I miss the time when we say “ciee..” so many time.
I miss the time when we scare to death for biology test, or physics, or chemistry.
I miss the time when we did those presentations and became the best presentation ever. EVER.
I miss the time when I can come to you for crying and you ask nothing. :’)
I miss our Dhuha time.
I miss the time when we talk about the future.
I miss our silent time.
I miss you.
I miss us.
I hope you miss us too.
I’ll see you in the future.
I’ll see you next holiday!!!!

Me,
Dhanita

P.S: can’t wait for June.

Are you smart enough to act fool?

Are you smart enough to act fool?

I am.

Leave your burden and dance! Forget your problem for awhile and go karaoke!!

Leave your unfinished-yet thesis and ride spekun with me!! NOW!



It’s spekun time!!

If it’s all about luck, darling, I think I’m not luck enough.


If it’s all about luck, darling, I think I’m not luck enough.

First of all, I want to say thank you to Mr. I-thought-you-are-the-right-one for giving me such lesson –and a lot of good songs, Look Out Below is become one of my favorite song ever. I never thought that your I-don’t-feel-the-same attitude could hurt me so bad. However, I’m glad I know you, you such a good person. :’)

Second of all, oh, I think that’s all.

Percakapan jam 2 pagi



Percakapan jam 2 pagi:

Gue: Liat wallpaper desktop gue! Cinderella. Gue mau jadi kayak Cinderella.

H07: Gue sukanya Belle. Soalnya Belle sayang sama Beast walopun Beast jelek. Emang Cinderella mau sama Pangeran kalo Pangerannya jelek?

Gue (diam sejenak lalu berkata): Kalo gitu gue mau jadi Aurora aja. Bisa tidur ribuan tahun. Hoam.

Emang Cinderella mau sama Pangeran kalo Pangerannya jelek?

Entahlah.

Wednesday, March 17, 2010

Dulu

Dulu, dulu sekali, saat masih SMA. Eh, gak dulu-dulu banget ding! Baru juga beberapa bulan yang lalu (24 bulan lalu tepatnya). Dulu, ketika kelas 3 SMA, saya berpikir kalau saya berada di persimpangan jalan dalam hidup saya, dimana pilihan saya akan sangat menentukan masa depan saya. Pilihan jurusan kuliah dan universitas. Pilihan untuk mati-matian belajar atau santai-santai pasrah. (FYI, gue di kelas 2 SMA sama seperti mayoritas anak kelas 2 SMA lainnya, penuh dengan kegiatan kepanitiaan, ekskul dan organisasi, hampir gak pernah belajar –hehe.. emang gue nya aja yang males. Jadi kelas 3 SMA musti kebut ngejar pelajaran -.-)

Alhamdulillah Allah selalu menunjukan jalan terbaik untuk saya.
Saya belajar dengan keras dan tak lupa berdoa (berkat tuntunan dan support Mama-Papa tercinta :D).
Berdoa agar diberi kesabaran dan keikhlasan atas apapun hasil yang diberikan-Nya. Karena apapun yang Allah berikan itu pasti yang terbaik.
(Sumpah, gue jadi ngerasa gue jaman SMA lebih dewasa dan bijak dalam menerima kenyataan hidup dibanding gue di SEMESTER 3 KEMAREN. Ceilah, KENYATAAN HIDUP! Kata-kata lo, Dhan!!)

Lalu, hari ini, 18 Februari 2010, ketika gue sedang jalan di selasar antara Departemen Teknik Kimia dan Teknik Metalurgi & Material gue sadar kalo setiap hari gue berada di persimpangan hidup gue, dimana pilihan yang gue ambil akan menentukan masa depan gue. Ya, benar. BENAR.

“Setiap hari kita berada di persimpangan jalan hidup kita, dimana pilihan yang kita ambil akan menentukan masa depan kita.”

Contohnya, hari ini gue ceritanya LAGI GAK MOOD KULIAH, jadi gue bolos kuliah KARENA KALAU PUN GUE KULIAH, di kelas gue cuma akan ganggu anak2 lain dengan ngajak ngobrol mereka.
(Alasan sakti yang gue gunakan kalo lagi malas kuliah: “KARENA KALAU PUN GUE KULIAH, di kelas gue cuma akan ganggu anak2 lain dengan ngajak ngobrol mereka.”)
Ya. Hari ini gue rasa gue mengambil keputusan yang salah dengan bolos kuliah Fasilitas Pabrik. (Ampun, Ma!! Aku janji gak bolos lagi!!)

Mungkin bolos satu kali kuliah tidak akan secara signifikan mempengaruhi masa depan gue. Mungkin juga iya.

Yang pasti, saya berjanji mulai sekarang setiap pagi saya akan bangun tidur dengan penuh syukur dan menyambut hari dengan antusias dan penuh tanggung jawab karena saya tahu hari itu saya akan membuat keputusan penting yang akan mempengaruhi masa depan saya. Sekecil apapun keputusan saya itu.

Teknik (1)

Berikut adalah cuplikan percakapan saya dengan lelaki2 Teknik.

Sore hari hujan2 pukul 17.00-an di kantin teknik selesai rapat MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa) sebelum pulang ke rumah(saat itu masih libur kuliah) terjadilah percakapan berikut.

Mas D: “Kamu jadi ikut apply Beasiswa X, dhan?”
Gue: “Gak tahu, Mas. Mungkin apply, tapi saya gak berharap dapet, saya juga gak pingin dapet sih.”
Mas D: “Wah, berarti kamu beneran pengen dapet beasiswa ini ya, Dhan.”

Temen2 yang lain diam mengamati percakapan aneh gue dan Mas D.

Mas D (menjelaskan ke temen2 lain yang satu meja sama kita): “Menurut teori Dhanita, apa yang dia inginkan gak dia dapetin, jadi dia suka pura2 gak menginginkan hal yang dia inginkan supaya dia dapet.”
Gue (dengan semangat menjelaskan teori gue itu): “Iya!! Bener banget! Setiap gue pengen sesuatu pasti gak dapet. Udah terbukti lho! Gue pengen banget masuk UI lewat PMDK, gak dapet. Pas iseng2 ikut UMB malah dapet (dulu niatnya ikut SNMPTN). Pengen banget masuk Arsitektur gak dapet, gak berharap dapet TI malah dapet.”
Al: “Itu berarti kamu selalu dikasih yang terbaik buat kamu, Dhan.”
Gue (dalam hati berkata): “D*mn. BENER. Bener banget. Kalo dulu gue ikut PMDK gue gak bakal milih TI, dan sekarang gue bener2 ngerasa klop di TI. Seperti bebek yang ketemu kolam.” : )

“Itu berarti kamu selalu dikasih yang terbaik buat kamu, Dhan.”
Sumpah, sakti sekali kalimatmu, Al.
Saya bener-bener musti banyak bersyukur.