How did he do it?(A) He cheated
(B) He's lucky
(C) He's a genius
(D) It is written
Dan setiap kali gue meragukan diri gue, gue yakin kalo semua yang terjadi dan akan terjadi sudah tertulis dari awal.
Percakapan di bakso malang Citra (Jalan Margonda) di suaru sore seusai UAS Pemasaran Industri.
C: Beneran deh, gue gak nyangka kalo X bisa kayak gitu. Ternyata selama ini dibalik ke-alim-an-nya. Dia punya hubungan sama W.Me: Gue gak kaget. Temen gue yang dulunya kabid * di fakultas * aja ternyata genit. Emang semua orang itu palsu.
I: Termasuk elo?
Me (defense: ON): Iya. Tapi kadarnya beda. Gue biar gimana pun gak menampilkan diri gue alim ato gimana. Gak kayak dia. Image Fahri (Ayat-ayat Cinta), mental Saipul Jamil.
C: Iya. Gak ada orang kayak Fahri.
I: Mungkin belum ketemu aja.
C: Ya, mungkin belum.
Hanya orang naif yang percaya karakter ini bisa ditemukan di dunia nyata
Percakapan hampir tengah malam di asrama putri.
Me: Kemarin aku sama temen2 ngobrol2. Ternyata banyak orang yang di luar alim, ternyata dalemnya sama aja. Bener2 ngerusak image yang udah terbangun di kepala kita. Aku sama temen2 jadi skeptis sama orang2 alim. Pasti gak ada orang kayak Fahri.
N: Kalo kata mbak A, jangan lihat Islam dari penganutnya, tapi dari ajarannya. Bagaimanapun mereka itu manusia. Pasti ada salahnya, ada kepelesetnya.
Mbak A: kalo kamu kecewa sama orang karena satu sisi dirinya, coba lihat di sisi lainnya. Misalnya kamu kecewa teman kamu yang berpenampilan alim ternyata gak menjaga diri dengan lawan jenis, coba kamu liat sisi lain dirinya, kontribusinya ke masyarakat dsb. Mungkin saat itu dia hanya “kepeleset”.
Well, mungkin dia hanya “kepeleset”. Aku juga suka kepeleset, sering malah. Sesama manusia kayaknya harus saling maklum.
Lagipula, jangan lihat Islam dari penganutnya, tapi dari ajarannya.
Akan lebih mudah membangun kapasitas kepemimpinan orang dibanding menghilangkan kebiasaannya itu.. I think that exactly what FUS* think.